lilis supartini

Nama: lilis supartini Pekerjaan: guru SD ...

Selengkapnya

Di suatu senja

Assalamualaikum....

Wa'alaikum salam...

Limadza ila huna? ( kenapa ke sini)

Moment itu tak pernah lepas dari ingatanku, saat seorang ustadz (guru) berkunjung ke rumahku yang tempatnya di kaki Gunung Burangrang jauh dari kota. Tepat saat aku liburan bulanan pulang ke rumahku, selain silaturahmi juga minta uang untuk bekal. Owh... Ustadz silahkan masuk!

Aku panggil kedua orang tuaku dan memperkenalkan kalau tamu yang datang adalah salah satu guruku yang tinggalnya di Jakarta. Tak lama kakak tertuaku hadir juga dengan membawa cangkir yg diisi air teh has pegunungan.

Kami berbincang dan menanyakan maksud kedatangannya. Lama kita bicara, adzan maghribpun terdengar. Sang guru meminta izin untuk pergi ke mesjid.

Kini giliran aku yang diintrogasi oleh keluargaku. Mengapa bawa guru ke rumah? ngapain saja di Pondok kalau ujungnya hanya membawa laki-laki? Semua pertanyaan datang beruntun. Aku juga bingung menjawabnya. Tapi satu jawaban saat itu, tanya saja pada Sang guru!

Mana mungkin aku berhubungan dengan laki-laki sementara aturan di pondok itu tidak diperkenankan bahkan dilarang berhubungan dengan lawan jenis sebelum menyelesaikan pendidikan.

Aku juga masih tidak percaya, dia ada di rumahku sekarang. Bagaimana dia tahu alamat rumahku? Gumamku... Akh... Biar aku tanya saja nanti saat beliau kembali dari mesjid.

Tak lama sang guru kembali dari mesjid. Beliau duduk tepat disamping abahku. " cep, da ayeuna mah tos wengi, kumaha bade uih oge tos teu aya mobil angkot anu ka handap, kulem we wengi ieu mah". ( pak, karena sudah malam, pulang juga tak ada kendaraan umum yang mau ke kota, untuk malam ini nginep saja) begitu kira- kira bila aku terjemahkan bahasa abahku. Ketahuan banget ya kalau aku anak gunung hi...hi...

Menginaplah tuh ustadz. Dan aku hanya bertanya kenapa beliau datang jauh-jauh ke gubuk aku. Beliau menjawab "bukannya atas permintaanmu yang tidak mau pacaran dan bila serius langsung datang ke rumah". Glek... Aku tersedak, inikah jodohku, suara hatiku berkecamuk... Apa yang harus aku lakukan. Aku masih harus menyelesaikan masa bhaktiku di pondok yang hanya beberapa bulan lagi berakhir.

" ya, kalau ustadz sudah serius silahkan minta saja pada orang tuaku di sini dan juga orang tuaku di pondok, karena aku takut terusir bila tanpa restunya! ".

Esok harinya beliau pulang setelah aku ajak lihat perkebunan teh. " aku pasti akan kembali, dan panggil aku aa, begitu katanya ", hi...hi...jadi terdengar aneh...

Liburan bulanan berakhir, aku kembali ke pondok dengan waswas, takut kalau pak kyai tahu ada laki- laki mengunjungiku. Sampai akhirnya pak kyai pun tahu, karena sang guru meminta izin melamarku. Inilah akhir dari suatu senja...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali